Negara Yang Terancam Hilang: Tuvalu

Stand With Tuvalu (Oxfam International)
Tulisan ini adalah bagian dari serial tulisan tentang negara yang terancam hilang akibat pemanasan global yang mengakibatkan naiknya permukaan air laut. Negara yang direview di keseluruhan tulisan ini adalah negara yang tergabung dalam AOSIS (Alliance of Small Island States) yang merupakan salah satu organisasi antar pemerintah (Intergovernmental Association) dari dataran rendah pesisir (low-lying coastal) dan negara kepualaun kecil (small island countries). AOSIS didirikan pada tahun 1990, tujuan utama dari aliansi ini adalah untuk mengkonsolidasikan suara Small Island Developing States (SIDS) untuk mengatasi pemanasan global. AOSIS memiliki 42 anggota dan observer dari seluruh dunia, dimana 37 merupakan anggota PBB. Aliansi tersebut merupakan 28% dari negara-negara berkembang dan 20% dari total keanggotaan's PBB.

Tuvalu
Saya pertama kali mendengar nama Tuvalu ketika mengikuti acara Konferensi Perubahan Iklim COP15 di Copenhagen, Denmark pada bulan Desember 2009. Pada konferensi tersebut, delegasi Tuvalu adalah salah satu delegasi yang paling bersuara keras terutama di tanggal 10 Desember 2009 ketika delegasi Tuvalu  menuntut kenaikan suhu global harus dibatasi pada 1.5 derajat bukannya 2 derajat seperti yang diusulkan.

"Tuvalu is one of the most vulnerable countries in the world to climate change, and our future rests on the outcome of this meeting." --Ian Fry, Tuvalu's negotiator in COP15 Climate Conference.

Map Negara Tuvalu (CIA)
Tuvalu juga terkenal dengan nama Ellice Islands, Tuvalu sendiri berarti "delapan pulau yang berdiri bersama" dalam Bahasa Tuvalu karena negara ini terdiri dari 8 pulau yang terletak di Samudra Pasifik. Tuvalu dikelilingi oleh negara Kiribati, Nauru, Samoa dan Fiji dan berdasarkan perkiraan julah penduduk Juli 2010, Tuvalu dihuni sebanyak 10,472 orang (CIA World Fact Book) dan menjadikan Tuvalu sebagai negara dengan populasi penduduk terkecil ketiga di dunia setelah Vatican City dan Nauru. Tuvalu sendiri hanya memiliki luas 26 km persegi atau hanya 3% dari luas Jakarta dan jika dihitung dari luas daratannya saja, luas Tuvalu kurang dari 1% luas Jakarta. Kita bisa membayangkan bagaimana "menariknya" tinggal di Tuvalu.

Saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki di Tuvalu tetapi pernah bertemu dengan Gilliane Le Gallic yang merupakan pendiri dari organisasi Alofa Tuvalu. Gilliane mulai mendirikan organisasi ini setelah beberapa saat tinggal di Tuvalu dan merasakan kecintaanya akan negara kecil ini. Giliane bercerita bahwa Tuvalu adalah sebuah negara yang indah alamnya dan disamping itu, Tuvalu juga negara yang terancam akan dampak dari perubahan iklim. Adalah hal yang biasa ketika badai menerpa negara ini, air yang keluar dari tanah seperti yang dialami oleh daerah Sidoarjo dimana di Sidoarjo lumpur yang keluar dari tanah. Yang paling menarik mendengar tentang Tuvalu adalah ketika kita tidur dimanapun di daerah Tuvalu, maka deburan ombak akan menjadi musik penghibur di malam hari.

Yangki Imade Suara and Gilliane Le Gallic (Flickr Photo Stream)
Ancaman terbesar bukanlah bencana alam yang menerpa Tuvalu, tetapi ancaman terbesar yang sedang dihadapi oleh Tuvalu adalah tenggelamnya negara ini.  Titik tertinggi di Tuvalu hanya sekitar 4.5 meter (15 kaki), ini berarti jika air laut naik 40 cm setiap tahunnya, maka dalam 100 tahun lagi Tuvalu akan hilang dari muka bumi atau jika air laut naik 80 cm setiap tahunnya, maka dalam 50 tahun lagi Tuvalu hanya akan tinggal sebuah nama.

"We live in constant fear of the adverse impacts of climate change. For a coral atoll nation, sea level rise and more severe weather events loom as a growing threat to our entire population. The threat is real and serious, and is of no difference to a slow and insidious form of terrorism against us." --Saufatu Sopoanga, Prime Minister of Tuvalu, at the 58th Session of the United Nations General Assembly New York, 24th September 2003.

Jika dalam jangka waktu 50 hingga 100 tahun ke depan kita terus membiarkan terjadinya perubahan iklim yang mengakibatkan naiknya permukaan air laut, maka Tuvalu bukan hanya satu-satunya negara yang terancam akan hilang dari muka bumi. Indonesia sendiri sebagai negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17,000 pulau pasti juga akan terkena dampaknya. Jika Tuvalu hilang ini berarti air laut naik sebesar 4 meter, kita dapat menghitung berapa banyak kehidupan di pinggir pantai/laut yang akan hilang di kota-kota pinggir pantai Indonesia karena kebanyakan kota besar Indonesia berada di pinggir pantai, sebut saja Jakarta, Surabaya, Semarang, Padang, Makassar.


Sumber: CIA, BBC, Wikipedia, Alofa Tuvalu.

1 Response to Negara Yang Terancam Hilang: Tuvalu

May 9, 2015 at 5:59 AM

ngga cuma Tuvalu, negara lain juga terancam tenggelam termsk Indonesia (sebagian pulau2nya)...

Post a Comment


Edited by Yangki Imade Suara

Copyright 2010 by Anshul Dudeja