Showing posts with label studi di belanda. Show all posts
Showing posts with label studi di belanda. Show all posts

Yangki Imade Suara*

Tulisan ini adalah bagian dari tulisan untuk kompetisi blog Kompetiblog Studi di Belanda 2010 yang diadakan oleh Nuffic Neso Indonesia dengan tema “Dutch innovation, in my opinion”.

Berbicara tentang Belanda, kita tidak akan pernah melupakan inovasi-inovasi unik yang kemudian menjadi simbol dari berbagai seni dan arsitektur dunia. Beberapa tulisan sebelumnya di kategori Peserta Kompetiblog Studi di Belanda 2010 memfokuskan tulisan di bidang arsitektur dan juga bidang yang berhubungan dengan lingkungan khususnya tentang air.

Di tulisan ini, penulis akan membahas tentang inovasi yang dilakukan oleh sebuah kota yang bernama Rotterdam.

Rotterdam adalah kota yang terletak di bagian barat Belanda dan termasuk ke dalam provinsi Zuid Holland [1]. Rotterdam termasuk kota kedua terbesar di Belanda setelah Amsterdam dimana berdasarkan data penduduk tahun 2008, Rotterdam memiliki penduduk sebanyak 589,615 orang sedangkan Amsterdam memiliki penduduk sebanyak 762,057 orang [2].

Wilayah negara Belanda, 55% nya berada di bawah permukaan laut. Titik terendah di Belanda terletak di sebelah timur pusat Kota Rotterdam dimana mencapai sekitar 7cm di bawah laut dan daerah dataran rendah itu dilindungi oleh tanggul untuk menghadang naiknya air ke dalamnya.  Hal ini membuat Kota Rotterdam sangat sensitif terhadap badai, banjir dan kenaikan air laut.

Untuk melindungi kota dari kenaikan permukaan air laut dan banjir, pada akhir tahun 1990-an pemerintah kota membangun Maeslantkering, yaitunya dua gerbang besar yang bisa dibuka tutup dengan total panjangnya 600 meter dan ukurannya sebesar Menara Eifel. Ini merupakan salah satu rekor sturuktur bergerak terbesar di Bumi. Berikut gambar bergeraknya yang menggambarkan proses buka tutup Maeslantkering.

Maeslantkering Design [3]
Setelah selesai dibangun, gambar berikut ini menggambarkan bagaimana Maeslantkering ketika sedang dibuka dan ketika sedang ditutup.

Maeslantkering terbuka [4]

Maelantkering tertutup [4]
Dengan biaya pembangunan mencapai US$ 700 juta untuk satu bagiannya, atau totalnya mencapai US$ 1,400 juta dan seperti yang ditulis di atas, bahwa besarnya mencapai sebesar Menara Eifel. Berikut gambar rangkanya.

Rangka [4]
Setara dengan Menara Eifel [4]
Bandingkan tinggi para pekerjanya dengan tinggi rangkanya [4]
Maeslantkering akan menutup secara otomatis ketika tingkat air diperkirakan naik sekitar tiga meter di atas normal. Berdasarkan perkiraan dan deteksi para ahli air Belanda, ini akan terjadi setiap 10 tahun sekali dan setelah tahun 2050 akan terjadi setiap lima tahun sekali.

Berikut videonya di Youtube:





Untuk pertama kalinya semenjak dibangun, Maeslantkering resmi ditutup untuk pertama kalinya di bulan November 2007 ketika terjadi banjir yang secara otomatis membuat Maeslantkering menutup kota Rotterdam dari ancaman banjir.

Dengan titik terendah mencapai 6.76 meter dibawah permukaan air laut, tentunya Kota Rotterdam (seharusnya) tenggelam. Tetapi dengan biaya yang mencapai 1,400 juta dolar kita pastinya akan bertanya-tanya kenapa tidak pemerintah kota (membiarkan) kota Rotterdam tenggelam?

Ini tentunya karena pertimbangan ekonomi yang membuat pemerintah tetap mempertahankan Rotterdam. Rotterdam dikenal sebagai salah satu pelabuhan terbesar dan tersibuk di Eropa dan Dunia. Berikut ini adalah gambar Pelabuhan Rotterdam (Rotterdam Port) yang penulis abadikan ketika menghadiri pameran 100 Places to Remember before Disappear di Nyhavn, Denmark disela-sela acara COP15 Copenhagen sebagai bagian dari International Youth Climate Climate (IYCM) Delegation.

Rotterdam Port
Pada tahun 2003, Singapura dan tahun 2005 Sanghai merebut posisi sebagai pelabuhan tersibuk di dunia. Rotterdam, kota yang (seharusnya) tenggelam. Hari ini Rotterdam secara ekonomi merupakan kota pelabuhan terbesar di Eropa dari tahun 1962 dan salah satu yang tersibuk di dunia [5].

Sumber Data dan Gambar:
[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Rotterdam
[2] http://www.rotterdam.nl/ dan http://www.amsterdam.nl/
[3] http://www.verenigingmaartentromp.nl/nieuws/maeslant/voorj06.htm
[4] http://www.bloggang.com/viewdiary.php?id=moonfleet&month=01-2009&date=03&group=34&gblog=4
[5] http://www.portofrotterdam.com/en/home/

* Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FE UNPAD dan sedang mendalami isu Climate Change (Perubahan Iklim).
Rotterdam, Kota yang (Seharusnya) Tenggelam

Yangki Imade Suara*

Tulisan ini adalah bagian dari tulisan untuk kompetisi blog Kompetiblog Studi di Belanda 2010 yang diadakan oleh Nuffic Neso Indonesia dengan tema “Dutch innovation, in my opinion”.

Berbicara tentang Bandung, kita akan mengingat bahwa Bandung adalah salah satu ibukota dari provinsi yang tidak berada di dekat pantai. Bandung yang merupakan ibukota Jawa Barat memang terletak di daerah pegunungan (dataran tinggi).

Bandung secara sejarah menyimpan banyak memori akan perjuangan Indonesia. Sukarno, presiden pertama Indonesia merupakan lulusan dari Technische Hoogeschool, sekarang Institut Teknologi Bandung, berdasarkan catatan sejarah, Bandung juga menjadi ajang pertempuran di masa perang kemerdekaan, dan satu hal yang pasti menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada tahun 1955.

Berdasarkan data dari City Population, Bandung memiliki penduduk terbesar ketiga di kota-kota besar di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya.[1] Dengan populasi sebanyak 2.3 juta penduduk maka muncullah beragam masalah yang memang menjadi tantangan bagi pemerintah kota yang dipimpin oleh Bapak Dada Rosada.

Satu masalah yang sekarang ini sedang melanda Bandung adalah bencana banjir terutama daerah Bandung Selatan. Bukankah ini merupakan suatu hal yang harus kita pertanyakan karena secara geografis, Bandung terletak di daerah dataran tinggi. Jika merunut kepada satu iklan yang dulu sempat gencar di televisi, maka saya mencoba untuk mengganti kata-katanya menjadi "Kalau Bandung kebanjiran, berarti Jakarta tenggelam?".

Ada hal yang salah dengan tata ruang kota yang bisa mengakibatkan terjadinya banjir di dataran tinggi.

Sekarang kita kembali melakukan kajian ulang mengenai bencana ini. Pada suatu kesempatan, penulis pernah melakukan tanya jawab dengan beberapa penduduk kota Bandung, beberapa dosen dan juga teman-teman mahasiswa tentang perbandingan kondisi Bandung dahulu dan sekarang.

Tulisan ini akan coba memfokuskan pembahasan di Bandung Utara khususunya Dago. Berdasarkan tata ruang kota, Bandung Utara pada zaman Belanda dahulunya merupakan tempat untuk bermukimnya para perwira-perwira dan pejabat pemerintahan. Berikut ini merupakan denah dari kawasan Dago dimana kita bisa melihat begitu bagusnya rencana pembangunan kawasan ini.



Gambar Tata Ruang Dago [2] Anisavitri
Satu hal yang selalu akan kita ingat ketika kita berada di Dago adalah banyaknya pohon-pohon besar yang masih kokoh di tepi jalan di hampir semua pelosok Dago. Salah satu dosen FE UNPAD, Pak Kurniawan mengatakan dalam wawancara yang penulis lakukan bahwa dahulu ketika beliau masih menjadi mahasiswa, setiap pagi rasanya "wajib" memakai jaket karena dinginnya hari. Sedangkan sekarang ini, Bandung termasuk kota dengan kenaikan suhu yang lumayan tinggi sehingga hampir setiap hari selalu panas.


Dago dahulu kala [3] Anisavitri
Sedangkan teman-teman mahasiswa lainnya pernah mengatakan bahwa dahulunya Dago dipenuhi oleh pohon-pohon yang sampai saat ini pun masih ada. Ini adalah satu hal yang menarik untuk kita pelajari karena pohon-pohon tersebut ditanam ketika Belanda masih berada di Indonesia dan itu memiliki dampak jangka panjang (long term effect). Konsep pembangunan yang berkesinambungan dan berkelanjutan dengan memperhatikan aspek lingkungan dan alam adalah suatu kewajiban dalam setiap langkah pembangunan yang dilakukan oleh Belanda.

Mungkin kita sudah bosan mendengar bencana banjir yang terus melanda hampir pelosok nusantara, begitu juga dengan Bandung. Dalam 2 minggu kemaren, Kompas edisi Jawa Barat selalu memberitakan banjir yang melanda pelosok Jawa Barat dan Bandung bagian selatan. Dalam satu tulisan di Kompas, ditulis bahwa "Pembangunan di Bandung utara, membawa dampak negatif terhadap daerah di Bandung selatan". Hal ini karena tidak adanya konsep pembangunan yang ramah lingkungan serta konsep tata ruang kota yang boleh dikatakan tidak tertata dengan rapi sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada di Bandung.

Bandung utara yang dahulunya tempat bermukim sekarang menjadi kawasan kuliner dan tempat belanja. Dimana hal ini mengorbankan salah satu warisan yang begitu berharga bagi lingkungan yaitunya ditebangnya pohon-pohon besar yang selama ini menjadi penyambung nyawa bagi kehidupan masyarakat kota. Berikut ini gambar yang memperlihatkan Dago yang diambil dari jembatan penyeberangan di depan SMA 1 Bandung. Memang masih ada pohon-pohon tetapi ini lebih sedikit dibandingkan dengan 5 tahun sebelumnya.

Dago saat ini [4] Flickr
Dalam proses pembangunan, konsep keberlangsungan harus kita utamakan karena alam dengan tidak kita sadari membutuhkan watu yang lama untuk kembali menjadi seperti dulu. Alam membutuhkan tanggung jawab kita sebagai masyarakat untuk terus menjaga keberlangsungan. Pada akhirnya, kita seharusnya bangga karena dahulu bangsa ini berhasil memikirkan dan melakukan sesuatu untuk jangka panjang. Sekarang saatnya kita untuk berbenah dan kemudian melanjutkan pembangunan dengan tetap berpegang pada konsep pembangunan yang berkesinambungan dan berkelanjutan (sustainable & sustainability development).

Sumber:
[1] http://www.citypopulation.de/Indonesia-MU.html
[2] http://anisavitri.files.wordpress.com/2009/07/dagosuci.jpg
[3] http://anisavitri.files.wordpress.com/2009/07/bandung-dago-thee-huis.jpg
[4] http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/1425744486/


* Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FE UNPAD dan sedang mendalami Ekonomi Lingkungan.
Pohon-Pohon Besar Itu Mengajarkan Kami Makna Pembangunan

Yangki Imade Suara*

Tulisan ini adalah bagian dari tulisan untuk kompetisi blog Kompetiblog Studi di Belanda 2010 yang diadakan oleh Nuffic Neso Indonesia dengan tema “Dutch innovation, in my opinion”.

Amsterdam yang merupakan ibukota dari Belanda merupakan kota terbesar di Belanda. Kota ini dihuni oleh sekitar 750.000 orang ini (bandingkan dengan Jakarta yang diperkirakan pada tahun 2000 berjumlah 9.72 juta jiwa).

Dengan penduduk yang  kurang dari 10% penduduk Jakarta, Amsterdam berhasil menduduki peringkat 5 European Green City Index yang dikeluarkan oleh Economist Intelligence Unit yang melakukan indeksisasi tentang kota hijau di 30 kota di 30 negara di Eropa.

Pemerintah kota Amsterdam berhasil mengembangkan beberapa inovasi yang mendongkrak posisi kota ini menjadi 5 besar kota hijau di Eropa. Pada tulisan bagian 1 ini, saya akan mencoba mengembangkan tulisan ini tentang upaya pemerintah kota mengatasi masalah emisi CO2.
I amsterdam (C) http://igougo.com

Emisi Karbondioksida (CO2)
Dampak dari perubahan iklim telah dirasakan oleh masyarakat global dunia, karena sifat dari perubahan iklim ini tidak hanya terkotak-kotak di suatu tempat. Dampak ini juga dirasakan oleh penduduk Amsterdam dan ini dibuktikan dengan dimana Amsterdam menduduki peringkat 12 dari total 30 kota di Eropa.

Pemerintah Amsterdam dewasa ini telah membuat target pengurangan emisi dengan mengurangi sebesar 40% emisinya pada tahun 2025 (berdasarkan tahun 1990), atau juga target ini berarti di angka 34% di tahun 2020 dan lebih tinggi dari target Uni Eropa dimana UE memasang angka 20% pengurangan emisi di tahun 2020.

Emisi per orang di Amsterdam adalah sebesar 6.66 ton per tahunnya dimana gambaran 1 ton emisi CO2 bisa dilihat di gambar berikut.
This is the size of One Tonne CO2 (c) Yangki Imade Suara
Gambar diatas merupakan sebuah replika dari 1 ton CO2 yang diambil ketika penulis mengikuti acara COP15 di Copenhagen, Denmark sebagai bagian dari International Youth Climate Movement Delegation.

Transportasi
Belanda yang terkenal sebagai negara di bawah laut tentunya mempunyai tata kelola air dan sistem drainase yang baik. Kanal yang berada di hampir segala titik kota dijadikan sebagai salah satu sarana untuk transportasi di Amsterdam. Kesan sungai yang sangat kotor yang kita jumpai hampir di semua pelosok kota-kota besar di Indonesia seakan terbantahkan ketika kita mencoba menggunakan transportasi air di Amsterdam. Jika di Jakarta Kali Ciliwung digunakan sebagai salah satu tempat ujicoba moda transportasi air tidak berhasil karena banyaknya sampah plastik yang mengganggu kerja dari  baling-baling sehingga sering macet belum lagi masalah kualitas air yang bau dan sangat hitam.
Canal Boat (c) http://www.johnnyjet.com
Moda transportasi lain di Amsterdam adalah transportasi umum seperti Bus, Tram, Canal Boat dan Kereta Api Lokal. Disamping moda transportasi ini, warga di Amsterdam juga gemar bersepeda atau berjalan kaki karena telah tersedia jalur sepeda sepanjang 2.8km.


* Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FE UNPAD dan sedang mendalami Ekonomi Lingkungan.


Sumber Data:
http://indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=4075&Itemid=1510
Kota Hijau yang Bernama Amsterdam, Bagian 1



Edited by Yangki Imade Suara

Copyright 2010 by Anshul Dudeja