Yangki Imade Suara*
This maps will show us the impact of global temperature if rise around 4 degrees Celsius or around 7 degrees Fahrenheit.
The maps will show us about the impact of rising in a global temperature in 9 sector around the world;
1. Forest Fire
2. Crops
3. Water Availability
4. Sea Level Rise
5. Marine
6. Drought
7. Permafrost
8. Tropical Cyclones
9. Extreme Temp
Here you can download the document about the impact of rising in global temperature about 4 degrees Celsius. Document are available in [english] [chinese] [spanish] [russian] [portuguese] [french] [arabic]
* An undergraduate student majoring economics in faculty economy Padjadjaran University and interesting about climate change issue.
The Impact of A Global Temperature Rise of 4 Degrees Celsius
Climate Change +
COP15 +
Environment
Yangki Imade Suara*
This maps will show us the impact of global temperature if rise around 4 degrees Celsius or around 7 degrees Fahrenheit.The maps will show us about the impact of rising in a global temperature in 9 sector around the world;
1. Forest Fire
2. Crops
3. Water Availability
4. Sea Level Rise
5. Marine
6. Drought
7. Permafrost
8. Tropical Cyclones
9. Extreme Temp
Here you can download the document about the impact of rising in global temperature about 4 degrees Celsius. Document are available in [english] [chinese] [spanish] [russian] [portuguese] [french] [arabic]
* An undergraduate student majoring economics in faculty economy Padjadjaran University and interesting about climate change issue.
Yangki Imade Suara*
Tulisan ini adalah bagian dari tulisan untuk kompetisi blog Kompetiblog Studi di Belanda 2010 yang diadakan oleh Nuffic Neso Indonesia dengan tema “Dutch innovation, in my opinion”.
Berbicara tentang Belanda, kita tidak akan pernah melupakan inovasi-inovasi unik yang kemudian menjadi simbol dari berbagai seni dan arsitektur dunia. Beberapa tulisan sebelumnya di kategori Peserta Kompetiblog Studi di Belanda 2010 memfokuskan tulisan di bidang arsitektur dan juga bidang yang berhubungan dengan lingkungan khususnya tentang air.
Di tulisan ini, penulis akan membahas tentang inovasi yang dilakukan oleh sebuah kota yang bernama Rotterdam.
Rotterdam adalah kota yang terletak di bagian barat Belanda dan termasuk ke dalam provinsi Zuid Holland [1]. Rotterdam termasuk kota kedua terbesar di Belanda setelah Amsterdam dimana berdasarkan data penduduk tahun 2008, Rotterdam memiliki penduduk sebanyak 589,615 orang sedangkan Amsterdam memiliki penduduk sebanyak 762,057 orang [2].
Wilayah negara Belanda, 55% nya berada di bawah permukaan laut. Titik terendah di Belanda terletak di sebelah timur pusat Kota Rotterdam dimana mencapai sekitar 7cm di bawah laut dan daerah dataran rendah itu dilindungi oleh tanggul untuk menghadang naiknya air ke dalamnya. Hal ini membuat Kota Rotterdam sangat sensitif terhadap badai, banjir dan kenaikan air laut.
Untuk melindungi kota dari kenaikan permukaan air laut dan banjir, pada akhir tahun 1990-an pemerintah kota membangun Maeslantkering, yaitunya dua gerbang besar yang bisa dibuka tutup dengan total panjangnya 600 meter dan ukurannya sebesar Menara Eifel. Ini merupakan salah satu rekor sturuktur bergerak terbesar di Bumi. Berikut gambar bergeraknya yang menggambarkan proses buka tutup Maeslantkering.

Maeslantkering Design [3]
Setelah selesai dibangun, gambar berikut ini menggambarkan bagaimana Maeslantkering ketika sedang dibuka dan ketika sedang ditutup.

Maeslantkering terbuka [4]

Maelantkering tertutup [4]
Dengan biaya pembangunan mencapai US$ 700 juta untuk satu bagiannya, atau totalnya mencapai US$ 1,400 juta dan seperti yang ditulis di atas, bahwa besarnya mencapai sebesar Menara Eifel. Berikut gambar rangkanya.

Rangka [4]

Setara dengan Menara Eifel [4]

Bandingkan tinggi para pekerjanya dengan tinggi rangkanya [4]
Maeslantkering akan menutup secara otomatis ketika tingkat air diperkirakan naik sekitar tiga meter di atas normal. Berdasarkan perkiraan dan deteksi para ahli air Belanda, ini akan terjadi setiap 10 tahun sekali dan setelah tahun 2050 akan terjadi setiap lima tahun sekali.
Berikut videonya di Youtube:
Untuk pertama kalinya semenjak dibangun, Maeslantkering resmi ditutup untuk pertama kalinya di bulan November 2007 ketika terjadi banjir yang secara otomatis membuat Maeslantkering menutup kota Rotterdam dari ancaman banjir.
Dengan titik terendah mencapai 6.76 meter dibawah permukaan air laut, tentunya Kota Rotterdam (seharusnya) tenggelam. Tetapi dengan biaya yang mencapai 1,400 juta dolar kita pastinya akan bertanya-tanya kenapa tidak pemerintah kota (membiarkan) kota Rotterdam tenggelam?
Ini tentunya karena pertimbangan ekonomi yang membuat pemerintah tetap mempertahankan Rotterdam. Rotterdam dikenal sebagai salah satu pelabuhan terbesar dan tersibuk di Eropa dan Dunia. Berikut ini adalah gambar Pelabuhan Rotterdam (Rotterdam Port) yang penulis abadikan ketika menghadiri pameran 100 Places to Remember before Disappear di Nyhavn, Denmark disela-sela acara COP15 Copenhagen sebagai bagian dari International Youth Climate Climate (IYCM) Delegation.

Rotterdam Port
Pada tahun 2003, Singapura dan tahun 2005 Sanghai merebut posisi sebagai pelabuhan tersibuk di dunia. Rotterdam, kota yang (seharusnya) tenggelam. Hari ini Rotterdam secara ekonomi merupakan kota pelabuhan terbesar di Eropa dari tahun 1962 dan salah satu yang tersibuk di dunia [5].
Sumber Data dan Gambar:
[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Rotterdam
[2] http://www.rotterdam.nl/ dan http://www.amsterdam.nl/
[3] http://www.verenigingmaartentromp.nl/nieuws/maeslant/voorj06.htm
[4] http://www.bloggang.com/viewdiary.php?id=moonfleet&month=01-2009&date=03&group=34&gblog=4
[5] http://www.portofrotterdam.com/en/home/
* Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FE UNPAD dan sedang mendalami isu Climate Change (Perubahan Iklim).
Rotterdam, Kota yang (Seharusnya) Tenggelam
Article +
kompetiblog +
studi di belanda
Tulisan ini adalah bagian dari tulisan untuk kompetisi blog Kompetiblog Studi di Belanda 2010 yang diadakan oleh Nuffic Neso Indonesia dengan tema “Dutch innovation, in my opinion”.
Berbicara tentang Belanda, kita tidak akan pernah melupakan inovasi-inovasi unik yang kemudian menjadi simbol dari berbagai seni dan arsitektur dunia. Beberapa tulisan sebelumnya di kategori Peserta Kompetiblog Studi di Belanda 2010 memfokuskan tulisan di bidang arsitektur dan juga bidang yang berhubungan dengan lingkungan khususnya tentang air.
Di tulisan ini, penulis akan membahas tentang inovasi yang dilakukan oleh sebuah kota yang bernama Rotterdam.
Rotterdam adalah kota yang terletak di bagian barat Belanda dan termasuk ke dalam provinsi Zuid Holland [1]. Rotterdam termasuk kota kedua terbesar di Belanda setelah Amsterdam dimana berdasarkan data penduduk tahun 2008, Rotterdam memiliki penduduk sebanyak 589,615 orang sedangkan Amsterdam memiliki penduduk sebanyak 762,057 orang [2].
Wilayah negara Belanda, 55% nya berada di bawah permukaan laut. Titik terendah di Belanda terletak di sebelah timur pusat Kota Rotterdam dimana mencapai sekitar 7cm di bawah laut dan daerah dataran rendah itu dilindungi oleh tanggul untuk menghadang naiknya air ke dalamnya. Hal ini membuat Kota Rotterdam sangat sensitif terhadap badai, banjir dan kenaikan air laut.
Untuk melindungi kota dari kenaikan permukaan air laut dan banjir, pada akhir tahun 1990-an pemerintah kota membangun Maeslantkering, yaitunya dua gerbang besar yang bisa dibuka tutup dengan total panjangnya 600 meter dan ukurannya sebesar Menara Eifel. Ini merupakan salah satu rekor sturuktur bergerak terbesar di Bumi. Berikut gambar bergeraknya yang menggambarkan proses buka tutup Maeslantkering.
![]() |
| Maeslantkering Design [3] |
![]() |
| Maeslantkering terbuka [4] |
![]() |
| Maelantkering tertutup [4] |
![]() |
| Rangka [4] |
![]() |
| Setara dengan Menara Eifel [4] |
![]() |
| Bandingkan tinggi para pekerjanya dengan tinggi rangkanya [4] |
Berikut videonya di Youtube:
Untuk pertama kalinya semenjak dibangun, Maeslantkering resmi ditutup untuk pertama kalinya di bulan November 2007 ketika terjadi banjir yang secara otomatis membuat Maeslantkering menutup kota Rotterdam dari ancaman banjir.
Dengan titik terendah mencapai 6.76 meter dibawah permukaan air laut, tentunya Kota Rotterdam (seharusnya) tenggelam. Tetapi dengan biaya yang mencapai 1,400 juta dolar kita pastinya akan bertanya-tanya kenapa tidak pemerintah kota (membiarkan) kota Rotterdam tenggelam?
Ini tentunya karena pertimbangan ekonomi yang membuat pemerintah tetap mempertahankan Rotterdam. Rotterdam dikenal sebagai salah satu pelabuhan terbesar dan tersibuk di Eropa dan Dunia. Berikut ini adalah gambar Pelabuhan Rotterdam (Rotterdam Port) yang penulis abadikan ketika menghadiri pameran 100 Places to Remember before Disappear di Nyhavn, Denmark disela-sela acara COP15 Copenhagen sebagai bagian dari International Youth Climate Climate (IYCM) Delegation.
| Rotterdam Port |
Sumber Data dan Gambar:
[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Rotterdam
[2] http://www.rotterdam.nl/ dan http://www.amsterdam.nl/
[3] http://www.verenigingmaartentromp.nl/nieuws/maeslant/voorj06.htm
[4] http://www.bloggang.com/viewdiary.php?id=moonfleet&month=01-2009&date=03&group=34&gblog=4
[5] http://www.portofrotterdam.com/en/home/
* Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FE UNPAD dan sedang mendalami isu Climate Change (Perubahan Iklim).
Yangki Imade Suara*
Tulisan ini adalah bagian dari tulisan untuk kompetisi blog Kompetiblog Studi di Belanda 2010 yang diadakan oleh Nuffic Neso Indonesia dengan tema “Dutch innovation, in my opinion”.
Berbicara tentang Bandung, kita akan mengingat bahwa Bandung adalah salah satu ibukota dari provinsi yang tidak berada di dekat pantai. Bandung yang merupakan ibukota Jawa Barat memang terletak di daerah pegunungan (dataran tinggi).
Bandung secara sejarah menyimpan banyak memori akan perjuangan Indonesia. Sukarno, presiden pertama Indonesia merupakan lulusan dari Technische Hoogeschool, sekarang Institut Teknologi Bandung, berdasarkan catatan sejarah, Bandung juga menjadi ajang pertempuran di masa perang kemerdekaan, dan satu hal yang pasti menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada tahun 1955.
Berdasarkan data dari City Population, Bandung memiliki penduduk terbesar ketiga di kota-kota besar di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya.[1] Dengan populasi sebanyak 2.3 juta penduduk maka muncullah beragam masalah yang memang menjadi tantangan bagi pemerintah kota yang dipimpin oleh Bapak Dada Rosada.
Satu masalah yang sekarang ini sedang melanda Bandung adalah bencana banjir terutama daerah Bandung Selatan. Bukankah ini merupakan suatu hal yang harus kita pertanyakan karena secara geografis, Bandung terletak di daerah dataran tinggi. Jika merunut kepada satu iklan yang dulu sempat gencar di televisi, maka saya mencoba untuk mengganti kata-katanya menjadi "Kalau Bandung kebanjiran, berarti Jakarta tenggelam?".
Ada hal yang salah dengan tata ruang kota yang bisa mengakibatkan terjadinya banjir di dataran tinggi.
Sekarang kita kembali melakukan kajian ulang mengenai bencana ini. Pada suatu kesempatan, penulis pernah melakukan tanya jawab dengan beberapa penduduk kota Bandung, beberapa dosen dan juga teman-teman mahasiswa tentang perbandingan kondisi Bandung dahulu dan sekarang.
Tulisan ini akan coba memfokuskan pembahasan di Bandung Utara khususunya Dago. Berdasarkan tata ruang kota, Bandung Utara pada zaman Belanda dahulunya merupakan tempat untuk bermukimnya para perwira-perwira dan pejabat pemerintahan. Berikut ini merupakan denah dari kawasan Dago dimana kita bisa melihat begitu bagusnya rencana pembangunan kawasan ini.

Gambar Tata Ruang Dago [2] Anisavitri
Satu hal yang selalu akan kita ingat ketika kita berada di Dago adalah banyaknya pohon-pohon besar yang masih kokoh di tepi jalan di hampir semua pelosok Dago. Salah satu dosen FE UNPAD, Pak Kurniawan mengatakan dalam wawancara yang penulis lakukan bahwa dahulu ketika beliau masih menjadi mahasiswa, setiap pagi rasanya "wajib" memakai jaket karena dinginnya hari. Sedangkan sekarang ini, Bandung termasuk kota dengan kenaikan suhu yang lumayan tinggi sehingga hampir setiap hari selalu panas.

Dago dahulu kala [3] Anisavitri
Sedangkan teman-teman mahasiswa lainnya pernah mengatakan bahwa dahulunya Dago dipenuhi oleh pohon-pohon yang sampai saat ini pun masih ada. Ini adalah satu hal yang menarik untuk kita pelajari karena pohon-pohon tersebut ditanam ketika Belanda masih berada di Indonesia dan itu memiliki dampak jangka panjang (long term effect). Konsep pembangunan yang berkesinambungan dan berkelanjutan dengan memperhatikan aspek lingkungan dan alam adalah suatu kewajiban dalam setiap langkah pembangunan yang dilakukan oleh Belanda.
Mungkin kita sudah bosan mendengar bencana banjir yang terus melanda hampir pelosok nusantara, begitu juga dengan Bandung. Dalam 2 minggu kemaren, Kompas edisi Jawa Barat selalu memberitakan banjir yang melanda pelosok Jawa Barat dan Bandung bagian selatan. Dalam satu tulisan di Kompas, ditulis bahwa "Pembangunan di Bandung utara, membawa dampak negatif terhadap daerah di Bandung selatan". Hal ini karena tidak adanya konsep pembangunan yang ramah lingkungan serta konsep tata ruang kota yang boleh dikatakan tidak tertata dengan rapi sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada di Bandung.
Bandung utara yang dahulunya tempat bermukim sekarang menjadi kawasan kuliner dan tempat belanja. Dimana hal ini mengorbankan salah satu warisan yang begitu berharga bagi lingkungan yaitunya ditebangnya pohon-pohon besar yang selama ini menjadi penyambung nyawa bagi kehidupan masyarakat kota. Berikut ini gambar yang memperlihatkan Dago yang diambil dari jembatan penyeberangan di depan SMA 1 Bandung. Memang masih ada pohon-pohon tetapi ini lebih sedikit dibandingkan dengan 5 tahun sebelumnya.

Dago saat ini [4] Flickr
Dalam proses pembangunan, konsep keberlangsungan harus kita utamakan karena alam dengan tidak kita sadari membutuhkan watu yang lama untuk kembali menjadi seperti dulu. Alam membutuhkan tanggung jawab kita sebagai masyarakat untuk terus menjaga keberlangsungan. Pada akhirnya, kita seharusnya bangga karena dahulu bangsa ini berhasil memikirkan dan melakukan sesuatu untuk jangka panjang. Sekarang saatnya kita untuk berbenah dan kemudian melanjutkan pembangunan dengan tetap berpegang pada konsep pembangunan yang berkesinambungan dan berkelanjutan (sustainable & sustainability development).
Sumber:
[1] http://www.citypopulation.de/Indonesia-MU.html
[2] http://anisavitri.files.wordpress.com/2009/07/dagosuci.jpg
[3] http://anisavitri.files.wordpress.com/2009/07/bandung-dago-thee-huis.jpg
[4] http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/1425744486/
* Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FE UNPAD dan sedang mendalami Ekonomi Lingkungan.
Pohon-Pohon Besar Itu Mengajarkan Kami Makna Pembangunan
Article +
kompetiblog +
studi di belanda
Tulisan ini adalah bagian dari tulisan untuk kompetisi blog Kompetiblog Studi di Belanda 2010 yang diadakan oleh Nuffic Neso Indonesia dengan tema “Dutch innovation, in my opinion”.
Berbicara tentang Bandung, kita akan mengingat bahwa Bandung adalah salah satu ibukota dari provinsi yang tidak berada di dekat pantai. Bandung yang merupakan ibukota Jawa Barat memang terletak di daerah pegunungan (dataran tinggi).
Bandung secara sejarah menyimpan banyak memori akan perjuangan Indonesia. Sukarno, presiden pertama Indonesia merupakan lulusan dari Technische Hoogeschool, sekarang Institut Teknologi Bandung, berdasarkan catatan sejarah, Bandung juga menjadi ajang pertempuran di masa perang kemerdekaan, dan satu hal yang pasti menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada tahun 1955.
Berdasarkan data dari City Population, Bandung memiliki penduduk terbesar ketiga di kota-kota besar di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya.[1] Dengan populasi sebanyak 2.3 juta penduduk maka muncullah beragam masalah yang memang menjadi tantangan bagi pemerintah kota yang dipimpin oleh Bapak Dada Rosada.
Satu masalah yang sekarang ini sedang melanda Bandung adalah bencana banjir terutama daerah Bandung Selatan. Bukankah ini merupakan suatu hal yang harus kita pertanyakan karena secara geografis, Bandung terletak di daerah dataran tinggi. Jika merunut kepada satu iklan yang dulu sempat gencar di televisi, maka saya mencoba untuk mengganti kata-katanya menjadi "Kalau Bandung kebanjiran, berarti Jakarta tenggelam?".
Ada hal yang salah dengan tata ruang kota yang bisa mengakibatkan terjadinya banjir di dataran tinggi.
Sekarang kita kembali melakukan kajian ulang mengenai bencana ini. Pada suatu kesempatan, penulis pernah melakukan tanya jawab dengan beberapa penduduk kota Bandung, beberapa dosen dan juga teman-teman mahasiswa tentang perbandingan kondisi Bandung dahulu dan sekarang.
Tulisan ini akan coba memfokuskan pembahasan di Bandung Utara khususunya Dago. Berdasarkan tata ruang kota, Bandung Utara pada zaman Belanda dahulunya merupakan tempat untuk bermukimnya para perwira-perwira dan pejabat pemerintahan. Berikut ini merupakan denah dari kawasan Dago dimana kita bisa melihat begitu bagusnya rencana pembangunan kawasan ini.
![]() |
| Gambar Tata Ruang Dago [2] Anisavitri |
![]() |
| Dago dahulu kala [3] Anisavitri |
Mungkin kita sudah bosan mendengar bencana banjir yang terus melanda hampir pelosok nusantara, begitu juga dengan Bandung. Dalam 2 minggu kemaren, Kompas edisi Jawa Barat selalu memberitakan banjir yang melanda pelosok Jawa Barat dan Bandung bagian selatan. Dalam satu tulisan di Kompas, ditulis bahwa "Pembangunan di Bandung utara, membawa dampak negatif terhadap daerah di Bandung selatan". Hal ini karena tidak adanya konsep pembangunan yang ramah lingkungan serta konsep tata ruang kota yang boleh dikatakan tidak tertata dengan rapi sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada di Bandung.
Bandung utara yang dahulunya tempat bermukim sekarang menjadi kawasan kuliner dan tempat belanja. Dimana hal ini mengorbankan salah satu warisan yang begitu berharga bagi lingkungan yaitunya ditebangnya pohon-pohon besar yang selama ini menjadi penyambung nyawa bagi kehidupan masyarakat kota. Berikut ini gambar yang memperlihatkan Dago yang diambil dari jembatan penyeberangan di depan SMA 1 Bandung. Memang masih ada pohon-pohon tetapi ini lebih sedikit dibandingkan dengan 5 tahun sebelumnya.
![]() |
| Dago saat ini [4] Flickr |
Sumber:
[1] http://www.citypopulation.de/Indonesia-MU.html
[2] http://anisavitri.files.wordpress.com/2009/07/dagosuci.jpg
[3] http://anisavitri.files.wordpress.com/2009/07/bandung-dago-thee-huis.jpg
[4] http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/1425744486/
* Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FE UNPAD dan sedang mendalami Ekonomi Lingkungan.
Yangki Imade Suara*
KumKum di sini merupakan sebuah ajang kumpul-kumpul bareng berbagai komunitas. Di sini akan ada komunitas blogger, literasi, hobi, astronomi, pencari dana, peduli anak & peduli lingkungan. Bahkan juga akan ada komunitas pengamen & anak jalanan ikut meramaikan.
Berbagai kegiatan menarik yang bisa memperluas wawasan & khasanah berpikir serta meningkatkan keahlian warga kota akan berbagai hal akan tersedia di sini. Tidak hanya untuk orang dewasa, tapi juga untuk anak-anak, remaja, dan ibu rumah tangga.
Berbeda dengan acara komunitas pada umumnya. KumKum bukan sekedar ajang kumpul-kumpul, dan juga bukan ajang tampil untuk tiap komunitas. KumKum merupakan sebuah upaya untuk merekatkan hubungan antar komunitas lintas ‘genre’. Di sini tiap komunitas bisa saling BERBAGI ide, pemikiran & inisitif untuk kemudian masing-masing dapat BERBUAT hal nyata guna menciptakan sebuah perubahan.
Salah satu tulisan saya tentang lingkungan dengan judul Gang Hijau di Tengah Panasnya Kota mendapatkan apresiasi dari Panitia KumKum Blog Contest dan menjadi kandidat untuk posting terfavorit dengan ide yang termudah untuk diterapkan sehari-hari.
Berikut ini list para peserta kompetisi blog KumKum http://kumkum.dagdigdug.com/2010/03/03/daftar-peserta-kompetisi-blog/
(Berdasarkan urutan di list posting blog terdaftar yang tercantum di blog KumKum)
- - Perjalanan si Nday: Earth Hour at Home
- - Sahabat Bumi: Galong
- - Sahabat Bumi: Nyuci Piring Yuuk
- - Sahabat Bumi: Greenie, si Keranjang Takakura
- - Semmy: Bahaya Kantong Kresek
- - Yangki Imade's Official Blog: Gang Hijau di Tengah Panasnya Kota Jakarta
- - Blog Asepsaiba: Hadiah Kecil untuk Bumi
- - Hanya Sekedar Catatan: Anil, Jus dan Sedotan
- - Catatan si Nandang: Pandalisme, Vandalisme dan Sampah Plastik
- - I don't drink Coffee but Cappucino: Kantong Kresek? Lewat aja dah
Untuk polling, silahkan berkunjung ke blog Kumkum http://kumkum.dagdigdug.com/2010/04/09/polling/ dan kemudian pilih Yangki Imade's Official Blog: Gang Hijau di Tengah Panasnya Kota Jakarta sebagai postingan terfavorit Anda.
Batas polling adalah hari Kamis, 15 April 2010, pukul 23.59 WIB.
*Mahasiswa Ilmu Ekonomi Universitas Padjadjaran yang belajar menulis tentang lingkungan
Dukung Artikel Gang Hijau di Tengah Panasnya Kota sebagai Posting Favorit di KumKum Blog Competition
"KumKum 17-18 April 2010" +
Article
Yangki Imade Suara*
Berbagai kegiatan menarik yang bisa memperluas wawasan & khasanah berpikir serta meningkatkan keahlian warga kota akan berbagai hal akan tersedia di sini. Tidak hanya untuk orang dewasa, tapi juga untuk anak-anak, remaja, dan ibu rumah tangga.
Berbeda dengan acara komunitas pada umumnya. KumKum bukan sekedar ajang kumpul-kumpul, dan juga bukan ajang tampil untuk tiap komunitas. KumKum merupakan sebuah upaya untuk merekatkan hubungan antar komunitas lintas ‘genre’. Di sini tiap komunitas bisa saling BERBAGI ide, pemikiran & inisitif untuk kemudian masing-masing dapat BERBUAT hal nyata guna menciptakan sebuah perubahan.
Salah satu tulisan saya tentang lingkungan dengan judul Gang Hijau di Tengah Panasnya Kota mendapatkan apresiasi dari Panitia KumKum Blog Contest dan menjadi kandidat untuk posting terfavorit dengan ide yang termudah untuk diterapkan sehari-hari.
Berikut ini list para peserta kompetisi blog KumKum http://kumkum.dagdigdug.com/2010/03/03/daftar-peserta-kompetisi-blog/
(Berdasarkan urutan di list posting blog terdaftar yang tercantum di blog KumKum)
- - Perjalanan si Nday: Earth Hour at Home
- - Sahabat Bumi: Galong
- - Sahabat Bumi: Nyuci Piring Yuuk
- - Sahabat Bumi: Greenie, si Keranjang Takakura
- - Semmy: Bahaya Kantong Kresek
- - Yangki Imade's Official Blog: Gang Hijau di Tengah Panasnya Kota Jakarta
- - Blog Asepsaiba: Hadiah Kecil untuk Bumi
- - Hanya Sekedar Catatan: Anil, Jus dan Sedotan
- - Catatan si Nandang: Pandalisme, Vandalisme dan Sampah Plastik
- - I don't drink Coffee but Cappucino: Kantong Kresek? Lewat aja dah
Batas polling adalah hari Kamis, 15 April 2010, pukul 23.59 WIB.
*Mahasiswa Ilmu Ekonomi Universitas Padjadjaran yang belajar menulis tentang lingkungan

The national flag of Poland was at half staff in front of the Polish embassy in The Hague, the Netherlands. Photo: Koen Van Weel/Agence France-Presse — Getty Images
Yangki Imade Suara*
That was a shocking news for me when I read on twitter that a plane carrying the Polish president and dozens of the country's top political and military leaders to the site of a Soviet massacre of Polish officers in World War II crashed in western Russia on Saturday, killing everyone on board.
President Lech Kaczynski’s plane tried to land in a thick fog, missing the runway and snagging treetops about half a mile from the airport in Smolensk, scattering chunks of fuselage across a bare forest.
The crash came as a stunning blow to Poland, wiping out a large portion of the country’s leadership in one fiery explosion. And in a chilling twist, it happened at the moment that Russia and Poland were beginning to come to terms with the killing of more than 20,000 members of Poland’s elite officer corps in the same place 70 years ago.

Site of plane crash (c) The New York Times
The picture shows the location of plane crash. It was only 2 km from Smolensk Airport.
After read tweet about it, I search on the internet and I also send my condolences to my friend in Poland Waldemar Sieniawski and Karolina Sieniawska.
"I'm sorry to hear that your president was killed in plane crash." Karolina replied it " Thx Yangki, We're still in shock. It's very sad, because except L. Kaczyński many politicians important for our country died in this plane crash
News report stated that this plane crash killing everyone on board including Lech Kaczyński (President), Maria Kaczyńska (Wife of President Kaczyński), Ryszard Kaczorowski (Former president in exile), Jerzy Szmajdzinski (Deputy speaker of parliament), Aleksander Szczyglo (Head of the National Security Bureau), Andrzej Kremer (Deputy foreign minister), Gen. Franciszek Gagor (Army chief of staff) and Slawomir Skrzypek (President of National Bank of Poland).

The New York Times

Waldemar Sieniawski and Karolina Sieniawska
I'm writing this article as my deepest condolences to the Polish. Byłem w Warszawie (I've been to Warsaw) and I'm really love this city. "I have received the news with a great shock and sadness about the death of president Lech Kaczynski, in a plane crash near to Smolensk. Seriously I don't believe it until I read detail about it. Event I don't know President Kaczynski and other passengers, I'm really sure that Poland has lost a lot of outstanding statesman in this unexpected accident. On my own behalf, I extend my deepest condolences to the friendly people of Poland at this most unfortunate and grievous loss."

I'm in front of Presidential Palace (Palac Prezydencki) on Dec 31, 2009 during my visit to Warsaw after COP15, Copenhagen, Denmark
*An undergraduate student majoring Economics and still looking another chance to visit Warsaw.
My Deepest Condelences to People of Poland
Activity +
Poland +
Warsaw
| The national flag of Poland was at half staff in front of the Polish embassy in The Hague, the Netherlands. Photo: Koen Van Weel/Agence France-Presse — Getty Images |
Yangki Imade Suara*
That was a shocking news for me when I read on twitter that a plane carrying the Polish president and dozens of the country's top political and military leaders to the site of a Soviet massacre of Polish officers in World War II crashed in western Russia on Saturday, killing everyone on board.
President Lech Kaczynski’s plane tried to land in a thick fog, missing the runway and snagging treetops about half a mile from the airport in Smolensk, scattering chunks of fuselage across a bare forest.
The crash came as a stunning blow to Poland, wiping out a large portion of the country’s leadership in one fiery explosion. And in a chilling twist, it happened at the moment that Russia and Poland were beginning to come to terms with the killing of more than 20,000 members of Poland’s elite officer corps in the same place 70 years ago.
![]() |
| Site of plane crash (c) The New York Times |
The picture shows the location of plane crash. It was only 2 km from Smolensk Airport.
After read tweet about it, I search on the internet and I also send my condolences to my friend in Poland Waldemar Sieniawski and Karolina Sieniawska.
"I'm sorry to hear that your president was killed in plane crash." Karolina replied it " Thx Yangki, We're still in shock. It's very sad, because except L. Kaczyński many politicians important for our country died in this plane crash
News report stated that this plane crash killing everyone on board including Lech Kaczyński (President), Maria Kaczyńska (Wife of President Kaczyński), Ryszard Kaczorowski (Former president in exile), Jerzy Szmajdzinski (Deputy speaker of parliament), Aleksander Szczyglo (Head of the National Security Bureau), Andrzej Kremer (Deputy foreign minister), Gen. Franciszek Gagor (Army chief of staff) and Slawomir Skrzypek (President of National Bank of Poland).
![]() |
| The New York Times |
| Waldemar Sieniawski and Karolina Sieniawska |
| I'm in front of Presidential Palace (Palac Prezydencki) on Dec 31, 2009 during my visit to Warsaw after COP15, Copenhagen, Denmark |

Yangki Imade Suara*
Global warming is mainly the result of CO2 levels rising in the Earth's atmosphere. Both atmospheric CO2 and other greenhouse gases. and climate change are accelerating. Climate scientists say we have years, not decades, to stabilize CO2
350 parts per million is what many scientists, climate experts, and progressive national governments are now saying is the safe upper limit for CO2 in our atmosphere.
350.org is an international campaign dedicated to building a movement to unite the world around solutions to the climate crisis--the solutions that justice demand. 350.org focus is on the number 350--as in parts per million, the level scientists have identified as the safe upper limit for CO2 in our atmosphere. But 350 is more than a number--it's a symbol of where we need to head as a planet.
Report from CO2now.org stated that in 2009, the average concentration for atmospheric CO2 (Mauna Loa Observatory) was 387.35 parts per million (ppm). In 2008, it was 385.57 ppm. Since the 1958 start of precise CO2 measurements in the atmosphere, the annual mean concentration of CO2 has only increased from one year to the next. There have been no decreases in annual CO2 levels since direct instrument measurements began. The following CO2 data provides a snapshot of the longest-running, high-precision instrument record for atmospheric CO2:
Year CO2 (ppm) Notes
2009 387.35 Copenhagen Accord
2008 385.57 The latest year for which a full year of data is available
2007 383.71
2006 381.85
1997 363.47 Kyoto Protocol
1992 356.27 Earth Summit in Rio de Janeiro
1987 348.98 The last year in which the annual CO2 data was less than 350 ppm
1959 315.98 The first year for which a full year of precise instrument data is available
Last month, the CO2 concentration was 391.06. That means there was an increasing about 3.71ppm from last year. Here's the graphic from CO2now.org listed the CO2 concentration from March 1958 til March 2010.
Last year COP15 in Copenhagen, Denmark produce Copenhagen Accord. Article 2 in this Accord stated that "deep cuts in global emissions are required according to science" (IPCCC AR4) and agrees cooperation in peaking (stopping from rising) global and national greenhouse gas emissions "as soon as possible" and that "a low-emission development strategy is indispensable to sustainable development".
We're heading forward to achieve what scientist believe hat 350ppm is the safe CO2 concentration for human life. Reduce 391.06 to 350ppm CO2 will be a hard task, but not impossible. Bill McKibben the founder of 350.org stated that "We need to stop taking carbon out of the ground and putting it into the air. Above all, that means we need to stop burning so much coal—and start using solar and wind energy and other such sources of renewable energy –while ensuring the Global South a fair chance to develop. If we do, then the earth’s soils and forests will slowly cycle some of that extra carbon out of the atmosphere, and eventually CO2 concentrations will return to a safe level. By decreasing use of other fossil fuels, and improving agricultural and forestry practices around the world, scientists believe we could get back to 350 by mid-century. But the longer we remain in the danger zone—above 350—the more likely that we will see disastrous and irreversible climate impacts."
* An undergraduate student majoring Economics in Faculty of Economics, Padjadjaran University and focusing in Environmental Economics.
Sources:
350.org 350 Science
CO2.now Atmospheric CO2 for March 2010
UNFCCC Copenhagen Accord
Heading 391.06ppm to 350ppm CO2 Concentration in the Atmosphere
COP15 +
Environment

Yangki Imade Suara*
Global warming is mainly the result of CO2 levels rising in the Earth's atmosphere. Both atmospheric CO2 and other greenhouse gases. and climate change are accelerating. Climate scientists say we have years, not decades, to stabilize CO2
350 parts per million is what many scientists, climate experts, and progressive national governments are now saying is the safe upper limit for CO2 in our atmosphere.
350.org is an international campaign dedicated to building a movement to unite the world around solutions to the climate crisis--the solutions that justice demand. 350.org focus is on the number 350--as in parts per million, the level scientists have identified as the safe upper limit for CO2 in our atmosphere. But 350 is more than a number--it's a symbol of where we need to head as a planet.
Report from CO2now.org stated that in 2009, the average concentration for atmospheric CO2 (Mauna Loa Observatory) was 387.35 parts per million (ppm). In 2008, it was 385.57 ppm. Since the 1958 start of precise CO2 measurements in the atmosphere, the annual mean concentration of CO2 has only increased from one year to the next. There have been no decreases in annual CO2 levels since direct instrument measurements began. The following CO2 data provides a snapshot of the longest-running, high-precision instrument record for atmospheric CO2:
Year CO2 (ppm) Notes
2009 387.35 Copenhagen Accord
2008 385.57 The latest year for which a full year of data is available
2007 383.71
2006 381.85
1997 363.47 Kyoto Protocol
1992 356.27 Earth Summit in Rio de Janeiro
1987 348.98 The last year in which the annual CO2 data was less than 350 ppm
1959 315.98 The first year for which a full year of precise instrument data is available
Last month, the CO2 concentration was 391.06. That means there was an increasing about 3.71ppm from last year. Here's the graphic from CO2now.org listed the CO2 concentration from March 1958 til March 2010.
Last year COP15 in Copenhagen, Denmark produce Copenhagen Accord. Article 2 in this Accord stated that "deep cuts in global emissions are required according to science" (IPCCC AR4) and agrees cooperation in peaking (stopping from rising) global and national greenhouse gas emissions "as soon as possible" and that "a low-emission development strategy is indispensable to sustainable development".
We're heading forward to achieve what scientist believe hat 350ppm is the safe CO2 concentration for human life. Reduce 391.06 to 350ppm CO2 will be a hard task, but not impossible. Bill McKibben the founder of 350.org stated that "We need to stop taking carbon out of the ground and putting it into the air. Above all, that means we need to stop burning so much coal—and start using solar and wind energy and other such sources of renewable energy –while ensuring the Global South a fair chance to develop. If we do, then the earth’s soils and forests will slowly cycle some of that extra carbon out of the atmosphere, and eventually CO2 concentrations will return to a safe level. By decreasing use of other fossil fuels, and improving agricultural and forestry practices around the world, scientists believe we could get back to 350 by mid-century. But the longer we remain in the danger zone—above 350—the more likely that we will see disastrous and irreversible climate impacts."
* An undergraduate student majoring Economics in Faculty of Economics, Padjadjaran University and focusing in Environmental Economics.
Sources:
350.org 350 Science
CO2.now Atmospheric CO2 for March 2010
UNFCCC Copenhagen Accord
Yangki Imade Suara*
Tulisan ini adalah bagian dari tulisan untuk kompetisi blog Kompetiblog Studi di Belanda 2010 yang diadakan oleh Nuffic Neso Indonesia dengan tema “Dutch innovation, in my opinion”.
Amsterdam yang merupakan ibukota dari Belanda merupakan kota terbesar di Belanda. Kota ini dihuni oleh sekitar 750.000 orang ini (bandingkan dengan Jakarta yang diperkirakan pada tahun 2000 berjumlah 9.72 juta jiwa).
Dengan penduduk yang kurang dari 10% penduduk Jakarta, Amsterdam berhasil menduduki peringkat 5 European Green City Index yang dikeluarkan oleh Economist Intelligence Unit yang melakukan indeksisasi tentang kota hijau di 30 kota di 30 negara di Eropa.
Pemerintah kota Amsterdam berhasil mengembangkan beberapa inovasi yang mendongkrak posisi kota ini menjadi 5 besar kota hijau di Eropa. Pada tulisan bagian 1 ini, saya akan mencoba mengembangkan tulisan ini tentang upaya pemerintah kota mengatasi masalah emisi CO2.

I amsterdam (C) http://igougo.com
Emisi Karbondioksida (CO2)
Dampak dari perubahan iklim telah dirasakan oleh masyarakat global dunia, karena sifat dari perubahan iklim ini tidak hanya terkotak-kotak di suatu tempat. Dampak ini juga dirasakan oleh penduduk Amsterdam dan ini dibuktikan dengan dimana Amsterdam menduduki peringkat 12 dari total 30 kota di Eropa.
Pemerintah Amsterdam dewasa ini telah membuat target pengurangan emisi dengan mengurangi sebesar 40% emisinya pada tahun 2025 (berdasarkan tahun 1990), atau juga target ini berarti di angka 34% di tahun 2020 dan lebih tinggi dari target Uni Eropa dimana UE memasang angka 20% pengurangan emisi di tahun 2020.
Emisi per orang di Amsterdam adalah sebesar 6.66 ton per tahunnya dimana gambaran 1 ton emisi CO2 bisa dilihat di gambar berikut.

This is the size of One Tonne CO2 (c) Yangki Imade Suara
Gambar diatas merupakan sebuah replika dari 1 ton CO2 yang diambil ketika penulis mengikuti acara COP15 di Copenhagen, Denmark sebagai bagian dari International Youth Climate Movement Delegation.
Transportasi
Belanda yang terkenal sebagai negara di bawah laut tentunya mempunyai tata kelola air dan sistem drainase yang baik. Kanal yang berada di hampir segala titik kota dijadikan sebagai salah satu sarana untuk transportasi di Amsterdam. Kesan sungai yang sangat kotor yang kita jumpai hampir di semua pelosok kota-kota besar di Indonesia seakan terbantahkan ketika kita mencoba menggunakan transportasi air di Amsterdam. Jika di Jakarta Kali Ciliwung digunakan sebagai salah satu tempat ujicoba moda transportasi air tidak berhasil karena banyaknya sampah plastik yang mengganggu kerja dari baling-baling sehingga sering macet belum lagi masalah kualitas air yang bau dan sangat hitam.

Canal Boat (c) http://www.johnnyjet.com
Moda transportasi lain di Amsterdam adalah transportasi umum seperti Bus, Tram, Canal Boat dan Kereta Api Lokal. Disamping moda transportasi ini, warga di Amsterdam juga gemar bersepeda atau berjalan kaki karena telah tersedia jalur sepeda sepanjang 2.8km.
* Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FE UNPAD dan sedang mendalami Ekonomi Lingkungan.
Sumber Data:
http://indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=4075&Itemid=1510
Kota Hijau yang Bernama Amsterdam, Bagian 1
kompetiblog +
studi di belanda
Tulisan ini adalah bagian dari tulisan untuk kompetisi blog Kompetiblog Studi di Belanda 2010 yang diadakan oleh Nuffic Neso Indonesia dengan tema “Dutch innovation, in my opinion”.
Amsterdam yang merupakan ibukota dari Belanda merupakan kota terbesar di Belanda. Kota ini dihuni oleh sekitar 750.000 orang ini (bandingkan dengan Jakarta yang diperkirakan pada tahun 2000 berjumlah 9.72 juta jiwa).
Dengan penduduk yang kurang dari 10% penduduk Jakarta, Amsterdam berhasil menduduki peringkat 5 European Green City Index yang dikeluarkan oleh Economist Intelligence Unit yang melakukan indeksisasi tentang kota hijau di 30 kota di 30 negara di Eropa.
Pemerintah kota Amsterdam berhasil mengembangkan beberapa inovasi yang mendongkrak posisi kota ini menjadi 5 besar kota hijau di Eropa. Pada tulisan bagian 1 ini, saya akan mencoba mengembangkan tulisan ini tentang upaya pemerintah kota mengatasi masalah emisi CO2.
![]() |
| I amsterdam (C) http://igougo.com |
Emisi Karbondioksida (CO2)
Dampak dari perubahan iklim telah dirasakan oleh masyarakat global dunia, karena sifat dari perubahan iklim ini tidak hanya terkotak-kotak di suatu tempat. Dampak ini juga dirasakan oleh penduduk Amsterdam dan ini dibuktikan dengan dimana Amsterdam menduduki peringkat 12 dari total 30 kota di Eropa.
Pemerintah Amsterdam dewasa ini telah membuat target pengurangan emisi dengan mengurangi sebesar 40% emisinya pada tahun 2025 (berdasarkan tahun 1990), atau juga target ini berarti di angka 34% di tahun 2020 dan lebih tinggi dari target Uni Eropa dimana UE memasang angka 20% pengurangan emisi di tahun 2020.
Emisi per orang di Amsterdam adalah sebesar 6.66 ton per tahunnya dimana gambaran 1 ton emisi CO2 bisa dilihat di gambar berikut.
| This is the size of One Tonne CO2 (c) Yangki Imade Suara |
Transportasi
Belanda yang terkenal sebagai negara di bawah laut tentunya mempunyai tata kelola air dan sistem drainase yang baik. Kanal yang berada di hampir segala titik kota dijadikan sebagai salah satu sarana untuk transportasi di Amsterdam. Kesan sungai yang sangat kotor yang kita jumpai hampir di semua pelosok kota-kota besar di Indonesia seakan terbantahkan ketika kita mencoba menggunakan transportasi air di Amsterdam. Jika di Jakarta Kali Ciliwung digunakan sebagai salah satu tempat ujicoba moda transportasi air tidak berhasil karena banyaknya sampah plastik yang mengganggu kerja dari baling-baling sehingga sering macet belum lagi masalah kualitas air yang bau dan sangat hitam.
| Canal Boat (c) http://www.johnnyjet.com |
* Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FE UNPAD dan sedang mendalami Ekonomi Lingkungan.
Sumber Data:
http://indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=4075&Itemid=1510
Ini adalah bagian dari liputan perjalanan Yangki sebagai bagian dari Global South Youth Delegation participating in COP15.
Sepeda berjejer di parkirannya (C) Yangki Suara
COP15 yang dilaksanakan pada bulan Desember 2009 dari tanggal 7-19 menyisakan banyak cerita yang harus saya tuliskan sebagai liputan perjalanan. Pada kesempatan tersebut, saya meminjam sepeda dari sebuah organisasi sepeda yang bernama Baisikeli. Baisikeli merupakan bahasa Swahili untuk sepeda.
Henrik bersama temannya (C) Yangki Suara
Henrik Mortensen merupakan salah satu anggota organisasi ini dan di sore yang telah berubah menjadi gelap (padahal masih jam 3 sore) saya berbincang-bincang dengan Henrik. Henrik sempat mengatakan bahwa "Tidak lengkap kalau ke Copenhagen jika Anda tidak bersepeda keliling kota". Dan kemudian saya mengatakan bahwa "What? suhu sekarang -2 derajat Celsius dan bersepeda?, saya akan membeku". Henrik : "Santai saja, jika Anda merasa kedinginan, tinggal bawa sepeda Anda ke Stasiun Metro atau tinggal bawa naik S-Tog, disana disediakan tempat khusus untuk sepeda".
Metro merupakan kereta cepat di kota Copenhagen tanpa masinis. Jadi seluruh jaringan Metro dikendalikan secara komputerisasi. Kereta ini beroperasi 24 jam non stop serta waktu tunggu antara 2-5 menit sesuai dengan indikator dari layar yang selalu tepat waktu. Sedangkan S-Tog adalah kereta dalam kota yang masih mempunyai masinis dan disini juga tersedia tempat untuk memarkir sepeda. Sangat-sangat nyaman sekali bersepeda di Copenhagen.
Berikut ini adalah video yang dirilis oleh panitia COP15 tentang Baisikeli.
Terima kasih untuk Henrik dan tim Baisikeli yang telah meminjamkan sepeda selama COP15 berlangsung.
Review Perjalanan COP15, Copenhagen, Denmark : Baisikeli Er Swahili for Cykel
COP15 +
Copenhagen +
Environment
Sepeda berjejer di parkirannya (C) Yangki Suara
COP15 yang dilaksanakan pada bulan Desember 2009 dari tanggal 7-19 menyisakan banyak cerita yang harus saya tuliskan sebagai liputan perjalanan. Pada kesempatan tersebut, saya meminjam sepeda dari sebuah organisasi sepeda yang bernama Baisikeli. Baisikeli merupakan bahasa Swahili untuk sepeda.
Henrik bersama temannya (C) Yangki Suara
Metro merupakan kereta cepat di kota Copenhagen tanpa masinis. Jadi seluruh jaringan Metro dikendalikan secara komputerisasi. Kereta ini beroperasi 24 jam non stop serta waktu tunggu antara 2-5 menit sesuai dengan indikator dari layar yang selalu tepat waktu. Sedangkan S-Tog adalah kereta dalam kota yang masih mempunyai masinis dan disini juga tersedia tempat untuk memarkir sepeda. Sangat-sangat nyaman sekali bersepeda di Copenhagen.
Berikut ini adalah video yang dirilis oleh panitia COP15 tentang Baisikeli.
Terima kasih untuk Henrik dan tim Baisikeli yang telah meminjamkan sepeda selama COP15 berlangsung.
Photo Credit : WWF UK
Last night we celebrate Earth Hour in Wale, Dago Atas, Bandung with some friends and also my girl. After the National Debate Competition 2010 by HIMA IESP UNPAD Day 2, Adit ask me to having a dinner in Wale, Dago Atas. We go there along with Haikal, Adit's Girl (Karina) and my girl (Shilva).
It was raining and after arrived in Wale around 8.15pm, I order Mie Ayam Rica-Rica, Mie Ayam Rica-Rica Spesial for Adit, Mie Yamin Spesial for Shilva, Haikal and Karina. While we eat our food some waitress turn of the light and when we ask them, they said "Earth Hour Mas".
Wow, Earth Hour is a big trending topic for this month. After having dinner in Wale we decided to go to Bandung Indah Plaza because there's a Night Sale. We arrived there around 10 pm and we decided to buy some items. I buy Formal Shoes and Airwalk Shoes, Shilva decided to buy clothes and a shoes, Haikal buy a Shirt and a shoes, Adit buy a shirt and Karina bough a t-shirt.
In my opinion, Earth Hour save electricity consumption for one hour. That's right. But if there's an event such as Night Sale for 3 hours started from 9pm till 12am. That just a slogan that we can save our earth. Instead of saving electricity, this would increase electricity consumption.
We back home around 00.15am and then watch English Premier League, Man United vs Bolton and the final score is 4-0 for Man United. OG, Berbatov, Berbatov and Gibson is the scorer. Glory Man United.
Earth Hour 2010, Saturday 27 March 2010 Review
Activity +
Earth Hour +
Environment
Photo Credit : WWF UK
Last night we celebrate Earth Hour in Wale, Dago Atas, Bandung with some friends and also my girl. After the National Debate Competition 2010 by HIMA IESP UNPAD Day 2, Adit ask me to having a dinner in Wale, Dago Atas. We go there along with Haikal, Adit's Girl (Karina) and my girl (Shilva).
It was raining and after arrived in Wale around 8.15pm, I order Mie Ayam Rica-Rica, Mie Ayam Rica-Rica Spesial for Adit, Mie Yamin Spesial for Shilva, Haikal and Karina. While we eat our food some waitress turn of the light and when we ask them, they said "Earth Hour Mas".
Wow, Earth Hour is a big trending topic for this month. After having dinner in Wale we decided to go to Bandung Indah Plaza because there's a Night Sale. We arrived there around 10 pm and we decided to buy some items. I buy Formal Shoes and Airwalk Shoes, Shilva decided to buy clothes and a shoes, Haikal buy a Shirt and a shoes, Adit buy a shirt and Karina bough a t-shirt.
In my opinion, Earth Hour save electricity consumption for one hour. That's right. But if there's an event such as Night Sale for 3 hours started from 9pm till 12am. That just a slogan that we can save our earth. Instead of saving electricity, this would increase electricity consumption.
We back home around 00.15am and then watch English Premier League, Man United vs Bolton and the final score is 4-0 for Man United. OG, Berbatov, Berbatov and Gibson is the scorer. Glory Man United.

Ini adalah bagian dari tulisan tentang "Go Green" yang saya tulis juga di Kandank Ilmu.
Go Green seperti yang kita dengar dewasa ini seolah-olah telah menjadi jargon wajib dari setiap perusahaan dan organisasi yang berada di jalur peduli lingkungan. Suhu yang semakin memanas serta polusi membuat kita merasa gerah dengan rutinitas harian yang begitu membuat stress pikiran. Di tengah maraknya penerapan kata-kata Go Green khususnya mengenai lingkungan hidup menjadikan konsep itu sendiri menjadi salah satu strategi komunikasi banyak perusahaan, kita bisa melihat begitu banyak iklan dengan kata-kata Go Green yang dilancarkan oleh berbagai perusahaan. Kita berharapnya itu bukan hanya jargon semata demi meningkatkan pangsa pasar semata, kita berharap semakin banyak pula masyarakat yang memiliki kesadaran akan lingkungan.
Salah satu yang berhasil menumbuhkan kesadaran akan lingkungan tersebut diwujudkan oleh sekelompok orang di Gang Swadaya, Jl. Dr. Saharjo, Manggarai, Jakarta Selatan. Kandank Ilmu pada waktu lebaran mencoba mengunjungi gang tersebut untuk melihat lebih jauh tentang konsep yang mereka tawarkan.
Begitu pertama kali datang, kami disuguhkan dengan tanaman-tanaman yang begitu hijau. Perjalanan yang membuat keringat bercucuran dibayarkan dengan tanaman-tanaman yang begitu hijau dan pohon yang membuat suhu panas kota Jakarta langsung menghilang begitu masuk ke Gang Swadaya. Setiap sudut Gang Swadaya yang hijau sejuk di pandang mata.
Pada kesempatan tersebut, kami juga berhasil mewawancarai Pak Ibnu sebagai salah satu orang yang memulai langkah menghijaukan Gang Swadaya tersebut. Menurut Pak Ibnu, Go Green yang dewasa ini menjadi jargon bagi mereka telah dibuktikan terlebih dahulu. Cuap-cuap perusahaan serta pemerintah daerah lebih baik dibuktikan dengan langkah nyata menghijaukan bagian terkecil dari sebuah kota yaitunya tempat tinggal. Awalnya menanam pohon dan tumbuhan hijau ini dimulai oleh 5 orang kemudian berkembang menjadi satu area di Gang Swadaya tersebut.
Kesulitan pertama menurut Pak Ibnu adalah susahnya mengajak para tetangga untuk berpartisipasi, tetapi lama kelamaan mereka menyadari bahwa kita harus melakukan sesuatu untuk mengurangi panasnya kota Jakarta yang semakin hari semakin disesaki oleh pengunjung yang berasal dari seantaro Indonesia.
Kesulitan lainnya adalah susahnya mencari tempat menanam pohon dan tumbuhan, akhirnya tumbuhan di tanam dalam pot bekas cat dan sebagainya. Pada akhirnya, menanam pohon dan tumbuhan menjadi suatu kewajiban bagi setiap rumah tanpa ada rasa terpaksa.
Berikut gambar-gambar yang berhasil Kandank Ilmu abadikan.
Klik link berikut ini untuk melihat lebih banyak lagi gambar
Yangki Imade Suara
Gang Hijau di Tengah Panasnya Kota Jakarta : KumKum, 17-18 April 2010
"KumKum 17-18 April 2010" +
Article +
Environment

Ini adalah bagian dari tulisan tentang "Go Green" yang saya tulis juga di Kandank Ilmu.
Go Green seperti yang kita dengar dewasa ini seolah-olah telah menjadi jargon wajib dari setiap perusahaan dan organisasi yang berada di jalur peduli lingkungan. Suhu yang semakin memanas serta polusi membuat kita merasa gerah dengan rutinitas harian yang begitu membuat stress pikiran. Di tengah maraknya penerapan kata-kata Go Green khususnya mengenai lingkungan hidup menjadikan konsep itu sendiri menjadi salah satu strategi komunikasi banyak perusahaan, kita bisa melihat begitu banyak iklan dengan kata-kata Go Green yang dilancarkan oleh berbagai perusahaan. Kita berharapnya itu bukan hanya jargon semata demi meningkatkan pangsa pasar semata, kita berharap semakin banyak pula masyarakat yang memiliki kesadaran akan lingkungan.
Salah satu yang berhasil menumbuhkan kesadaran akan lingkungan tersebut diwujudkan oleh sekelompok orang di Gang Swadaya, Jl. Dr. Saharjo, Manggarai, Jakarta Selatan. Kandank Ilmu pada waktu lebaran mencoba mengunjungi gang tersebut untuk melihat lebih jauh tentang konsep yang mereka tawarkan.
Begitu pertama kali datang, kami disuguhkan dengan tanaman-tanaman yang begitu hijau. Perjalanan yang membuat keringat bercucuran dibayarkan dengan tanaman-tanaman yang begitu hijau dan pohon yang membuat suhu panas kota Jakarta langsung menghilang begitu masuk ke Gang Swadaya. Setiap sudut Gang Swadaya yang hijau sejuk di pandang mata.
Pada kesempatan tersebut, kami juga berhasil mewawancarai Pak Ibnu sebagai salah satu orang yang memulai langkah menghijaukan Gang Swadaya tersebut. Menurut Pak Ibnu, Go Green yang dewasa ini menjadi jargon bagi mereka telah dibuktikan terlebih dahulu. Cuap-cuap perusahaan serta pemerintah daerah lebih baik dibuktikan dengan langkah nyata menghijaukan bagian terkecil dari sebuah kota yaitunya tempat tinggal. Awalnya menanam pohon dan tumbuhan hijau ini dimulai oleh 5 orang kemudian berkembang menjadi satu area di Gang Swadaya tersebut.
Kesulitan pertama menurut Pak Ibnu adalah susahnya mengajak para tetangga untuk berpartisipasi, tetapi lama kelamaan mereka menyadari bahwa kita harus melakukan sesuatu untuk mengurangi panasnya kota Jakarta yang semakin hari semakin disesaki oleh pengunjung yang berasal dari seantaro Indonesia.
Kesulitan lainnya adalah susahnya mencari tempat menanam pohon dan tumbuhan, akhirnya tumbuhan di tanam dalam pot bekas cat dan sebagainya. Pada akhirnya, menanam pohon dan tumbuhan menjadi suatu kewajiban bagi setiap rumah tanpa ada rasa terpaksa.
Berikut gambar-gambar yang berhasil Kandank Ilmu abadikan.
Klik link berikut ini untuk melihat lebih banyak lagi gambar
Yangki Imade Suara
Tulisan ini saya angkat berdasarkan film baru yang berjudul My Name Is Khan.
Film ini juga berhasil meraih berbagai penghargaan di UK dan juga New Zealand.
Film dimulai saat seorang anak, Rizwan Khan (Tanay Chheda), seorang muslim yang mengidap sindrom Asperger, hidup bersama ibunya (Zarina Wahab) di wilayah Borivali di Mumbai. Saat ia dewasa (Shahrukh Khan), Rizwan pindah ke San Fransisko dan hidup bersama adik dan iparnya. Selama disana, ia jatuh cinta kepada Mandira (Kajol). Mereka menikah dan memulai usaha
Setelah peristiwa 9/11, Rizwan dan Mandira mulai menghadapi beberapa kesulitan. Dimulai dari sebuah tragedi, mereka berpisah. Mandira bahkan berujar "I should never have married a Muslim man". Ingin kembali memenangkan hati istrinya, Rizwan melewati sejumlah petualangan diberbagai negara bagian di Amerika.
Hingga pada akhirnya Rizwan mendapatkan apa yang dia inginkan dan dia mengatakan "My name is Khan, and I'm not a terrorist"
Dari film ini, saya dapat memberikan gambaran bahwa hidup tidaklah selalu sama dengan apa yang kita harapkan. Tetapi kita harus dapat melakukan penyesuaian (adjustment) dengan keadaan yang terjadi. Segala macam kejadian merupakan bumbu-bumbu dari kehidupan yang akan menambah cita rasa dari perjalanan hidup ini.
More Info : Official WebsiteWatch on Youtube
We Are Stronger than Our Fears
Article +
Film
Film ini juga berhasil meraih berbagai penghargaan di UK dan juga New Zealand.
Film dimulai saat seorang anak, Rizwan Khan (Tanay Chheda), seorang muslim yang mengidap sindrom Asperger, hidup bersama ibunya (Zarina Wahab) di wilayah Borivali di Mumbai. Saat ia dewasa (Shahrukh Khan), Rizwan pindah ke San Fransisko dan hidup bersama adik dan iparnya. Selama disana, ia jatuh cinta kepada Mandira (Kajol). Mereka menikah dan memulai usaha
Setelah peristiwa 9/11, Rizwan dan Mandira mulai menghadapi beberapa kesulitan. Dimulai dari sebuah tragedi, mereka berpisah. Mandira bahkan berujar "I should never have married a Muslim man". Ingin kembali memenangkan hati istrinya, Rizwan melewati sejumlah petualangan diberbagai negara bagian di Amerika.
Film dimulai saat seorang anak, Rizwan Khan (Tanay Chheda), seorang muslim yang mengidap sindrom Asperger, hidup bersama ibunya (Zarina Wahab) di wilayah Borivali di Mumbai. Saat ia dewasa (Shahrukh Khan), Rizwan pindah ke San Fransisko dan hidup bersama adik dan iparnya. Selama disana, ia jatuh cinta kepada Mandira (Kajol). Mereka menikah dan memulai usaha
Setelah peristiwa 9/11, Rizwan dan Mandira mulai menghadapi beberapa kesulitan. Dimulai dari sebuah tragedi, mereka berpisah. Mandira bahkan berujar "I should never have married a Muslim man". Ingin kembali memenangkan hati istrinya, Rizwan melewati sejumlah petualangan diberbagai negara bagian di Amerika.
Hingga pada akhirnya Rizwan mendapatkan apa yang dia inginkan dan dia mengatakan "My name is Khan, and I'm not a terrorist"
Dari film ini, saya dapat memberikan gambaran bahwa hidup tidaklah selalu sama dengan apa yang kita harapkan. Tetapi kita harus dapat melakukan penyesuaian (adjustment) dengan keadaan yang terjadi. Segala macam kejadian merupakan bumbu-bumbu dari kehidupan yang akan menambah cita rasa dari perjalanan hidup ini.
More Info : Official Website
Watch on Youtube
This is picture with INEX.org President, Fabienne Babinsky, MSc. during COP15 and COY5 in Copenhagen, Denmark while participating during conference as TakingITGlobal Delegation and involved in several International Youth Climate Movement Team with youth from all over the world.
INEX is an NGO from Austria. More info about INEX visit http://www.inex.org/
Change Maker #2: Yangki
Activity +
COP15 +
Copenhagen +
IYCM +
NGO +
YOUNGO
INEX is an NGO from Austria. More info about INEX visit http://www.inex.org/
Email from Leon (friend from COP15)
Hi everyone, for all of you who were at the vigil and saw Ceesay leading the singing, or saw Josh up on stage the day after... These two young geniuses recorded this awesome song the day after COP15 finished. I've been asked to upload the final mix, so everybody download it and stick it on your ipods!
Download link is here <http://youthclimate.org/wp-content/uploads/2010/Save%20the%20Earth.mp3>
Cheers
Leon
Save The Earth : Free Download
Activity +
COP15 +
IYCM +
NGO +
Song +
YOUNGO
Hi everyone, for all of you who were at the vigil and saw Ceesay leading the singing, or saw Josh up on stage the day after... These two young geniuses recorded this awesome song the day after COP15 finished. I've been asked to upload the final mix, so everybody download it and stick it on your ipods!
Download link is here <http://youthclimate.org/wp-content/uploads/2010/Save%20the%20Earth.mp3>
Cheers
Leon
A coalition of civil society and NGO's holds a vigil for Survival in downtown Copenhagen. After being locked out of the Bella center and shut out of the process, civil society used the moment to reaffirm their dedication to solving the climate crisis.
Hundreds of people attend this event and holding candle which is represent 10.000 people who want a REAL DEAL from COP15 event.
Climate Justice on Vigil for Survival
COP15 +
Copenhagen +
IYCM +
NGO
Hundreds of people attend this event and holding candle which is represent 10.000 people who want a REAL DEAL from COP15 event.









